05 May 2011

MEMASAK, SUKA ATAU KEWAJIBAN?

Bagi sebagian besar orang, memasak adalah suatu kesukaan. Memasak adalah hobi, atau refreshing di saat senggang. Bagi saya sendiri, apakah arti memasak itu? Apakah suatu kesukaan ataukah kewajiban? Yak benar, jawaban saya, memasak adalah kewajiban, saya sama sekali tak suka memasak. Setiap hari saya harus memasak untuk keluarga kecil saya, terutama untuk krucils yang masih memerlukan gizi tinggi. Setiap hari saya dituntut untuk kreatif membuat makanan, membuat cemilan supaya krucils saya dengan senang hati mau makan, karena mereka begitu pemilih. Mungkin sudah rejeki saya, karena saya tak suka masak, jadi punya krucils yang pemilih dalam soal makanan… hehe… Tapi saya beruntung, sungguh beruntung, karena suami saya bukanlah pemilih makanan dan tak menuntut saya untuk memasak apa yang disukainya. Mungkin karena tahu saya tak suka memasak sepanjang usia saya, entah nanti saat tua, mungkin saya akan berubah sikap (tapiiii kecil kemungkinannya).
Ada teman yang menyarankan, “kalau nggak suka masak, kenapa nggak langganan catering saja? Banyak tuh, dari yang murah sampai yang mahal”. Wah, dalam hal ini saya tidak terlalu percaya pada catering, apalagi menyerahkan urusan makanan krucils tercinta saya pada mereka, bahkan mbak pun tak saya biarkan membantu untuk urusan krucils ini. Alasannya? Pertama, karena saya tak tahu bagaimanakah proses memasak dalam catering itu. Apakah bersih, higienis, tanpa msg, apakah yang memasak mencuci tangan sebelum masak, dan sebagainya pertanyaan yang membuat ragu. Kedua, kalau langganan catering itu kok rasanya seperti makan dijatah ya. Nggak bisa seenaknya makan banyak atau menyesuaikan dengan selera kita. Ketiga, kalau mau memang ada catering yang terjamin kebersihannya, tapi juga terjamin kemahalannya. Sayang ‘kan, dana untuk catering bisa dialihkan untuk urusan lain.
Ada pula yang berkata, “jaman sekarang ‘kan banyak tuh yang instan-instan, bumbu instan, tepung instan, apa aja ada”. Waduh! Ini sama sekali nggak masuk kriteria. Meskipun tak suka memasak, sudah pasti saya hindarkan bahan-bahan instan dari dapur saya. Sudah jelas segala yang instan itu kurang baik, dan mengandung msg. Untuk tepung, selalu saya siapkan berbagai jenis tepung, ada tepung terigu, tepung sagu, tepung panir, tepung maizena, dll, yang saya masukkan dalam wadah masing-masing dan diberi tulisan supaya tak tertukar. Saat memasak, tinggal saya kolaborasikan berbagai tepung itu. Untuk bumbu, tanpa msg pun rasanya enak kok, yang utama ada garam, gula, merica bubuk, bawang putih, semua akan mudah teratasi. Karena saya nggak suka masak, jadi saya sering membuat yang praktis-praktis. Terus terang, saya tak betah berlama-lama di dapur.
Saya tak suka memasak, bukan berarti saya tak bisa memasak. Jadi selagi saya bisa, akan saya lakukan, walaupun saya menganggapnya sebagai kewajiban. Terkadang saya melakukannya dengan senang hati, terkadang saya melakukannya dengan setengah hati kalau lagi malas, terkadang juga saya memesan makanan delivery kalau lagi sangat malas. Kalau boleh memilih, kalau ada yang memasakkan untuk keluarga saya, saya lebih suka dimasakkan, tinggal makan saja. Tapi tentunya dengan berbagai persyaratan, yang sesuai dengan yang saya inginkan. Oke, apapun yang terjadi, demi anak supaya tak kurang gizi, marilah memasak!! (curhat kecil di sela kesibukan nih… hehe…)

No comments: