Ditya mulai belajar puasa sejak tahun kemarin, saat usianya 5,5 tahun. Saat itu saya lumayan bingung, bagaimana cara membuat puasa Ramadhan jadi sesuatu yang menarik buat dia dan tak berat menjalaninya. Kebetulan sebelum bulan Ramadhan saya sempat membaca buku Catatan Hati Bunda, karya Asma Nadia. Di situ diceritakan tentang bagaimana anak-anak mba Asma menjalani bulan puasa dan bagaimana cara membuat mereka merasa gembira menjalaninya. Akhirnya saya memutuskan untuk mencontek ide dari buku itu, yaitu dengan memberikan hadiah-hadiah jika berhasil menjalankan ibadah puasa. Jadilah sebelum bulan Ramadhan tahun lalu, saya berburu hadiah untuk Ditya. Berhubung puasa ada 30 hari (plus minus), saya harus menyediakan hadiah sebanyak itu mestinya, untuk diberikan sehari satu buah jika Ditya bisa memenuhi target puasa. Tapi karena waktunya nggak cukup, saya hanya membeli sebagian saja, sekitar beberapa belas. Isi hadiah itu bukanlah barang-barang mahal, hanya benda-benda atau mainan yang menurut saya menarik buat Ditya, misalnya die cast hotwheel atau tomica atau kinsmart (favoritnya), buku gambar, pensil warna, spidol, set penggaris, buku cerita, buku catatan kecil, makanan kesukaan Ditya, dan sebagainya. Tak lupa hadiah kecil itu saya bungkus dengan kertas kado supaya lebih menarik. Sisa kekurangannya saya beli sedikit demi sedikit saat ada kesempatan. Dan ternyataaa… Ditya sangat gembira dengan cara ini!! Dengan sukacita dia menjalani ibadah puasa, tentu saja karena kegembiraan menanti-nanti memilih kado. Oiyah, tahun lalu Ditya berpuasa setengah hari, sampai adzan dhuhur, jadi sekitar satu jam setelah Ditya pulang sekolah, dia berbuka puasa. Tak lupa saya memberinya bonus tambahan kalau bisa berpuasa sampai maghrib, yaitu dia boleh mengambil 2 buah kado. Alhamdulillah, ada 4 hari yang dijalaninya sampai maghrib.
Tahun ini saya memberi bonus yang berbeda, bukan lagi berupa kado kecil, karena kondisi dan usia Ditya sudah bertambah, 6,5 tahun sekarang. Bonusnya adalah uang! Ya uang. Pasti ada yang nggak setuju, kok uang sih?? kayaknya gimanaaa gitu. Alasannya? Karena saya tahu keinginan dia. Dia sudah sangat menginginkan PSP, selama ini dia sudah menabung, tapi belum cukup. Jadi saya ingin menambah motivasinya untuk menabung. Nggak banyak jumlah uangnya, hanya 10 ribu per hari, jika Ditya bisa puasa sampai maghrib. Benar, kali ini targetnya saya tambah seiring usia. Waah, kali ini Ditya semangat banget puasa, ditambah lagi dengan bonus makanan pembuka dan menu buka puasa yang saya buat spesial setiap hari. Senang rasanya melihat Ditya puasa tahun ini. Meskipun nggak bisa sebulan penuh puasa sampai maghrib, ada beberapa hari yang nggak puasa karena sakit atau setengah hari karena kelelahan. Saat lebaran, Ditya juga dapat angpau dari om-tante, kakek-nenek, dan sodara-sodara, jadi makin banyaklah uang tabungannya. Alhamdulillah setelah mudik lebaran uang tabungan Ditya mencukupi untuk beli psp, yeay dapet psp deh!!
Semoga puasa tahun depan pun tetap semangat ya nak!! *Bonus tahun depan apa yaaa?? Hehe…
Dan hidup itu indah... Dengan Matahari dan Bintang yang selalu menyinari siang dan malam...
15 November 2011
14 November 2011
Nonton Film Beda Studio
Sudah sejak lama saya menanti-nantikan film "Sang Penari". Tentu saja karena saya suka bukunya, "Ronggeng Dukuh Paruk" karya Ahmad Tohari. Ketika saya tahu novel itu akan dibuat versi filmnya, wah rasanya nggak sabar menanti nanti seperti apa filmnya, secara novelnya keren dan bagus banget. Saya pun langsung booking waktu pada suami saya, booking waktu untuk nonton sendiri alias suamiku sayang harus menjaga anak-anak di rumah... hehe...
Sejak bulan lalu sudah heboh tentang nonton bareng Sang Penari di Twitter, karena saya follow akun film tersebut. waaah tambah nggak sabar aja rasanya menanti bulan November, tanggal 10 tepatnya, saat film itu diputar untuk umum.
BErhubung tanggal 10 adalah hari Kamis, nggak mungkin bagi saya nonton di hari itu, karena nggak mungkin ngajak krucils karena itu bukan film anak-anak. Jadilah dengan sabar saya menanti lagi hingga weekend tiba. Ternyata hari Sabtu, suami saya ada urusan di kantor hingga larut malam, nggak mungkin nonton deh. Akhirnya hari Minggu kemarin saya bulatkan tekad untuk nonton. Saya belum pernah nonton sendirian di bioskop, selalu bersama orang lain. Jadi kali ini saya pun berpikir untuk mengajak teman. Tapi ternyata di Detos diputar juga film Johnny English, yang saya rasa aman untuk anak-anak. Jadilah muncul ide, kenapa nggak nonton bareng aja. Suami dan krucils nonton Johnny English, sedangkan saya nonton Sang Penari. Kak Ditya juga senang dengan ide ini. Akhirnya kemarin kami ber-4 nonton film yang berbeda di bioskop yang sama, karena kebetulan jam tayangnya juga hampir sama, selisih setengah jam saja. JAdi weekend yang seru deh!!
Oh iya, tentang Sang Penari sendiri, 2 jempol dari saya untuk filmnya!! Meskipun agak sedikit ada perbedaan dengan novelnya, tapi tetep bagus dan keren :D
Sejak bulan lalu sudah heboh tentang nonton bareng Sang Penari di Twitter, karena saya follow akun film tersebut. waaah tambah nggak sabar aja rasanya menanti bulan November, tanggal 10 tepatnya, saat film itu diputar untuk umum.
BErhubung tanggal 10 adalah hari Kamis, nggak mungkin bagi saya nonton di hari itu, karena nggak mungkin ngajak krucils karena itu bukan film anak-anak. Jadilah dengan sabar saya menanti lagi hingga weekend tiba. Ternyata hari Sabtu, suami saya ada urusan di kantor hingga larut malam, nggak mungkin nonton deh. Akhirnya hari Minggu kemarin saya bulatkan tekad untuk nonton. Saya belum pernah nonton sendirian di bioskop, selalu bersama orang lain. Jadi kali ini saya pun berpikir untuk mengajak teman. Tapi ternyata di Detos diputar juga film Johnny English, yang saya rasa aman untuk anak-anak. Jadilah muncul ide, kenapa nggak nonton bareng aja. Suami dan krucils nonton Johnny English, sedangkan saya nonton Sang Penari. Kak Ditya juga senang dengan ide ini. Akhirnya kemarin kami ber-4 nonton film yang berbeda di bioskop yang sama, karena kebetulan jam tayangnya juga hampir sama, selisih setengah jam saja. JAdi weekend yang seru deh!!
Oh iya, tentang Sang Penari sendiri, 2 jempol dari saya untuk filmnya!! Meskipun agak sedikit ada perbedaan dengan novelnya, tapi tetep bagus dan keren :D
17 October 2011
KEMBALI KE MOTOR
Sejak SMA saya biasa mengendarai sepeda motor ke sekolah. Bahkan sejak kelas 6 SD saya sudah belajar naik motor, waktu itu diajari oleh saudara sepupu, tentu saja dengan ijin orang tua. Nah, sejak kuliah saya jarang banget naik motor, kecuali ojek… hehe… Atau pas pulang kampung, barulah saya naik motor ke mana-mana. Menginjak masa masa bekerja, saya makin jarang banget mengendarai motor sendiri, apalagi setelah menikah, sama sekali nggak pernah nyetir motor sendiri. Kalaupun naik motor pas pulang kampung ya bonceng suami atau bonceng siapapun deh. Dihitung hitung ada sekitar 10 tahun saya nggak mengendarai motor sendiri. Berhubung di rumah nggak ada motor, cuma ada mobil, jadi saya sungguh berniat ingin bisa nyetir mobil sendiri. Bisa buat anter anak sekolah, ke dokter, belanja dan lain lainnya. Tapi apa daya, udah kursus nyetir, udah belajar nyetir sama suami, udah belajar sendiri juga, dan bahkan udah bikin SIM (nembak!), tetep aja saya nggak berani nyetir mobil kemana mana. Dulu keliling komplek masih berani, tapi sejak ganti mobil sama sekali belum pernah nyobain… hehe… Parah banget dong ya.
NAH, karena akhir akhir ini jadi banyak mengandalkan ojek, jemput kakak, bayar PAM, kesana kemari kesana kemari, saya merasa sayang dong. Sekali naik ojek bolak balik paling nggak 10 ribu, belum lagi kalau ke sekolah kakak trus ojeknya nungguin, bisa 15 ribu, belum lagi ke giant dekat rumah ojeknya nungguin juga bisa 25 ribu. Coba deh dihitung, lumayan kan biaya per bulannya. Secara juga saya punya kemampuan nyetir motor yang telah disia siakan selama 10 tahun ini. Ditambah lagi jemputan sekolah kakak yang 225 ribu per bulan, bisa dihemat kalo saya antar jemput sendiri naik motor kan. Setelah berhitung penghematan yang akan bisa terjadi dengan adanya motor, saya putuskan untuk membeli motor, eh bukan keputusan saya ding, keputusan saya dan suami dong. Awalnya sih suami saya nggak setuju, dengan nego nego yang indah, akhirnya setuju juga, tapi dengan syarat nggak boleh naik motor sampai jalan raya yang gede dan ramai, apalagi bawa anak-anak, sangat tidak diijinkan! Baiklah, saya setuju saja :D
Akhirnya motor pesanan kami tiba! Yeay, senang sekali! Apalagi anak-anak, serasa punya mainan baru. Tumbenan kali ini suami saya langsung membolehkan saya nyetir sendiri, walaupun udah 10 tahun nggak nyetir. Sepertinya semangat saya membuat dia jadi percaya 1000 persen tuh. Wah, tanpa diduga saya ternyata masih bisa. Senang senang riang! Awalnya saya keliling jalanan deket rumah, lama lama tambah jauh sampai ke sekolah kakak, dan mulai iseng jemput kakak, tentu saja dengan mengajak adek. Dia duduk di depan, sedangkan kakak bonceng di belakang. Seru juga! Oh iya, kali ini saya beli motor matic, sepertinya lebih enak dan mudah. Dulu motor yang saya naiki motor manual biasa. Kalo kata orang-orang sih matic lebih gampang ya.
Satu hal yang sebetulnya membuat saya nggak enak hati, yaitu abang ojek yang ada di perempatan dekat rumah. Sepertinya mereka semua patah hati. Melihat saya mondar mandir naik motor sendiri, tatapan mereka seperti menusuk nusuk hati. Walaupun mereka tersenyum sih. Rasanya mereka seperti ingin bilang, “wah penghasilan gue berkurang nih!” Yah, tapi mau gimana lagi, saya juga perlu melakukan penghematan kan ya. Maafkan daku ya abang ojek, hidup harus terus berjalan, dan perubahan bisa datang kapan saja. Yak, segitu aja melankolisnya. Mari lanjutkan kegembiraan. Yuuukkk naik motor lagiiii!!
NAH, karena akhir akhir ini jadi banyak mengandalkan ojek, jemput kakak, bayar PAM, kesana kemari kesana kemari, saya merasa sayang dong. Sekali naik ojek bolak balik paling nggak 10 ribu, belum lagi kalau ke sekolah kakak trus ojeknya nungguin, bisa 15 ribu, belum lagi ke giant dekat rumah ojeknya nungguin juga bisa 25 ribu. Coba deh dihitung, lumayan kan biaya per bulannya. Secara juga saya punya kemampuan nyetir motor yang telah disia siakan selama 10 tahun ini. Ditambah lagi jemputan sekolah kakak yang 225 ribu per bulan, bisa dihemat kalo saya antar jemput sendiri naik motor kan. Setelah berhitung penghematan yang akan bisa terjadi dengan adanya motor, saya putuskan untuk membeli motor, eh bukan keputusan saya ding, keputusan saya dan suami dong. Awalnya sih suami saya nggak setuju, dengan nego nego yang indah, akhirnya setuju juga, tapi dengan syarat nggak boleh naik motor sampai jalan raya yang gede dan ramai, apalagi bawa anak-anak, sangat tidak diijinkan! Baiklah, saya setuju saja :D
Akhirnya motor pesanan kami tiba! Yeay, senang sekali! Apalagi anak-anak, serasa punya mainan baru. Tumbenan kali ini suami saya langsung membolehkan saya nyetir sendiri, walaupun udah 10 tahun nggak nyetir. Sepertinya semangat saya membuat dia jadi percaya 1000 persen tuh. Wah, tanpa diduga saya ternyata masih bisa. Senang senang riang! Awalnya saya keliling jalanan deket rumah, lama lama tambah jauh sampai ke sekolah kakak, dan mulai iseng jemput kakak, tentu saja dengan mengajak adek. Dia duduk di depan, sedangkan kakak bonceng di belakang. Seru juga! Oh iya, kali ini saya beli motor matic, sepertinya lebih enak dan mudah. Dulu motor yang saya naiki motor manual biasa. Kalo kata orang-orang sih matic lebih gampang ya.
Satu hal yang sebetulnya membuat saya nggak enak hati, yaitu abang ojek yang ada di perempatan dekat rumah. Sepertinya mereka semua patah hati. Melihat saya mondar mandir naik motor sendiri, tatapan mereka seperti menusuk nusuk hati. Walaupun mereka tersenyum sih. Rasanya mereka seperti ingin bilang, “wah penghasilan gue berkurang nih!” Yah, tapi mau gimana lagi, saya juga perlu melakukan penghematan kan ya. Maafkan daku ya abang ojek, hidup harus terus berjalan, dan perubahan bisa datang kapan saja. Yak, segitu aja melankolisnya. Mari lanjutkan kegembiraan. Yuuukkk naik motor lagiiii!!
05 October 2011
SOSIS GULUNG MIE

Sosis gulung mie, ini bekal favorit kakak sejak play group, dan ternyata sampai SD masih suka juga ^o^
Bikinnya cepet dan nggak repot, jadi bisa langsung dilakukan pagi hari.
bahan-bahan:
sosis, bisa sosis cocktail atau sosis biasa yang dipotong, kira kira untuk 10 potong
mie telur, satu bungkus kecil, seduh dengan air panas
garam
gula
merica bubuk
telur, 1 buah
tepung maizena, 1 sendok makan
minyak goreng, untuk menggoreng
cara membuat:
1. campur mie yang telah diseduh dengan telur dan tepung maizena. Bubuhi garam, gulu, merica secukupnya. usahakan mie tetap dalam ukuran panjang ya, supaya mudah menggulungnya.
2. gulung sosis dengan mie.
segera goreng dalam minyak panas, angkat saat matang.
3. siap disantap atau dimasukkan kotak bekal ^_^
04 October 2011
KAWAH PUTIH







Liburan akhir pekan kemarin, kami berencana ke Bandung, kali ini ramai-ramai bersama teman. Jumlahnya ada 11 orang, 7 dewasa dan 4 orang anak-anak. Kali ini kami pengin sesuatu yang berbeda dari Bandung, bukan hanya sekedar wisata belanja, jajan atau main saja. Berhubung anak-anak kami juga sudah SD, rasanya ini waktu yang tepat untuk sekalian mengenalkan kekayaan alam Indonesia.
Akhirnya diputuskanlah pergi ke Kawah Putih. Jadwalnya adalah hari Sabtu ke Kawah Putih, lalu bermalam di kota Bandung, esok paginya hari Minggunya wisata belanja dan jajan (teuteup… hehe).
Ternyata jalan menuju Kawah Putih lumayan jauh. Kami keluar lewat pintu tol Kopo. Dari sumber-sumber yang kami dapat, dari pintu tol Kopo masih sekitar 2 jam lagi. Berhubung sudah waktunya makan siang, kami memutuskan untuk berhenti makan dulu. Tanya sana sini, nggak ada rekomen yang pasti untuk makan di mana. Walaupun banyak rumah makan kami lewati, tapi rasanya nggak yakin enak nggaknya kalo bukan rekomen teman atau kerabat. Nah, di tengah jalan kami melihat sebuah rumah makan kecil, dengan saung saung yang cukup ramai, namanya ‘warung makan Hj. Lala’. Akhirnya kami putuskan makan di tempat itu. Makanannya khas Sunda. Ada Musholanya juga, jadi kami bisa sekalian sholat. Ternyata masakannya cukup enak, walopun pelayanannya agak kurang memuaskan, tapi tertutupi karena perut kami kenyaaang ^O^
Kami melanjutkan perjalanan, sempat salah jalan hingga ke arah pasar. Setelah Tanya sana sini, akhirnya kami balik arah. Beberapa kilometer mendekati area Kawah Putih, di kiri kanan jalan sekitar rumah rumah penduduk banyak terhampar tanaman strawberry dan daun bawang, banyak banget!
Akhirnya sampailah di Kawah Putih. Kami memutuskan untuk memarkir mobil, dan ke dalamnya naik angkot shuttle yang telah disediakan. Biayanya 25 ribu rupiah per orang. Anak di atas 4 tahun dihitung sama. Kalau tidak naik angkot, bisa juga membawa mobil ke dalam dan parkir di atas, tapi biayanya jauh lebih mahal. Untuk mobil dikenai tariff 150 ribu, sedangkan per orang dikenai biaya lagi 15 ribu. Mahal kan??
Dan ternyata, naik angkot shuttle ini cukup seru, sangat seru bahkan. Serasa naik roller coaster terpanjang di dunia… hehe… Karena jalannya yang berliku liku, kadang menanjak kadang menurun, ditambah lagi dengan abang supir yang sudah mahir, jadilah sepanjang jalan kami teriak teriak senang dan seru. Kak Ditya, tentu saja merasa senang sekali!! Sampai sampai ingin naik lagi!!
Sesampai di Kawah Putih, ada semacam gerbang masuknya, lalu kita menuruni tangga/undakan ke arah kawah. WOW!! Menakjubkan sekali pemandangannya. Sampai terbengong bengong saya dibuatnya. Hawanya memang dingin, anak anak sampai pakai jaket. Melihat pemandangan yang seindah itu, semua orang sibuk jeprat jepret. Cantik, indah, menakjubkan. Warna danaunya biru kehijauan, dengan asap asap belerang. Dilatarbelakangi bukit yang menjulang tinggi. Subhanallah!! Tak henti-hantinya bersyukur bisa melihat pemandangan seindah ini. Rasanya belum pengin kembali, tapi hari sudah menjelang sore. Setelah puas, akhirnya kami kembali ke halte tempat menunggu angkot shuttle. Yang membuat saya kagum, tempat ini bersih, tidak ada sampah berserakan, semua rapih terjaga. Hanya saja tetap masih ada ulah orang yang coret coret di batu, hanya sedikit, mungkin saat petugas tak melihatnya. Sebenarnya ini masalah tanggung jawab perorangan ya. Oh iya, satu hal lagi, peraturan dipasang di banyak tempat, seperti: “jangan turun ke air”, “Dilarang merokok”. “dilarang coret coret”, dsb. Salut saya, sebanding dengan tariff yang kita bayar. Sore itu kami semua melanjutkan perjalanan ke arah kota Bandung dengan hati puas ^O^
TAHU GORENG ISI TUNA

Yang bosen sama tahu goreng biasa, yuk cobain tahu goreng isi tuna, enaaakkk deh!
Bahan-bahan:
Tahu, bisa tahu putih or tahu kuning.
Tuna kaleng
Tepung terigu, 3 sendok makan.
Tepung sagu, 2 sendok makan.
Daun bawang, iris tipis
Garam
Gula
Merica bubuk
Minyak goreng, untuk menggoreng.
Cara membuat:
1. potong tahu jadi bentuk segitiga, lubangi tengahnya, keluarkan sedikit isinya.
2. campur tuna kaleng, tepung terigu, tepu sagu, daun bawang, garam, gula, merica bubuk. Aduk hingga kental. Campurkan isi tahu, yang tadi tengahnya dilubangi.
3. satu persatu masukkan adonan tuna ke dalam tahu segitiga.
4. goreng dalam minyak panas, angkat saat matang.
5. siap disantap!! Bisa dengan saus sambal or saus tomat or mayonais.
6. opsional: kalau suka bisa dilumuri tepung tipis sebelum digoreng, biar kriuukkk.
30 September 2011
SOTO KUDUS

Sore kemaren, kakak yang sedang demam mendadak minta soto kudus, jadilah bongkar bongkar isi kulkas. Dan ternyata semua bahan bahan ada di kulkas, walopun taugenya cuma sedikit, yang penting bisa dimasak deh.
Bahan bahan:
ayam, 1/2 kg, potong 6 bagian.
tauge, seduh dengan air panas.
daun bawang seledri, potong kecil.
lengkuas
daun salam
daun jeruk
merica bubuk
garam
gula
kecap manis
minyak goreng, untuk menumis.
nasi.
bawang goreng.
bawang putih goreng.
bumbu halus:
bawang putih, 8 siung
bawang merah, 10 siung
Cara memasak:
1. Tumis bumbu halus, lalu masukkan lengkuas, daun salam, daun jeruk. Beri air secukupnya, tambahkan garam, gula, merica bubuk dan kecap manis.Lalu masukkan ayam setelah air mendidih.
2. Angkat ayam setelah matang, lalu goreng. Suwir suwir (potong kecil) setelah dingin.
3. Susun dalam mangkuk saji, nasi, ayam suwir, tauge, daun bawang seledri, siram dengan kuah, lalu taburi bawang goreng dan bawang putih goreng.
4. Dan siap disantap!!
28 September 2011
KARTU LEBARAN DARI KAK DITYA!

Sebelum libur lebaran kemarin, kak Ditya membuat kreasi kartu lebaran di sekolah. Hanya sebentuk kertas berwarna yang dilipat, dan boleh diberi gambar sesuka hati di bagian dalam maupun luar. Yang membuatnya menarik, sangat menarik bahkan menurut saya, adalah tulisan di dalamnya. Mereka, setiap anak, diperbolehkan menuliskan isinya sesuka hati, dan memberikannya untuk siapa saja yang mereka inginkan. Saya ingat, tahun lalu waktu TK B, kak Ditya membuat kartu lebaran untuk Oma, hanya khusus untuk Oma! Memang dia sayang banget sama Omanya :)
Nah, yang membuat saya senang, kali ini kak Ditya membuat kartu lebaran untuk kami bertiga, untuk mama, ayah dan adek Bintang, dengan ucapan khusus untuk masing-masing orang.
Berikut ucapan yang ditulisnya dengan tangan:
Selamat Idul Fitri 1432 H.
Maaf Lahir Batin.
Dari Ditya.
Ayah, maaf ya, kemaren ayah udah ambilin baju, tapi ayah ambil yang lekton.
Ma, maaf ya, udah bikin mama marah.
Adek, maaf ya, kemaren waktu adek dudukin perut kakak, kakak marahin adek.
Waah, terharu saya membacanya! (hampir menitikkan air mata… hehe…)
Maksudnya, hari sebelumnya, Kak Ditya nggak mau pakai baju yang udah diambilkan ayah, karena dia nggak mau pakai kaos lengan kutung. Sedangkan mama, karena hari sebelumnya, entah karena masalah apa, Kak Ditya membuat mama marah.
Selamat Idul Fitri juga kakak (walopun nulisnya telat nih).
Selalu, selalu dan selalu akan memaafkan kakak.
Hari ini, hingga nanti, sayang kakak selamanya :) *peluk
07 June 2011
BONGKAR CELENGAN

Beberapa waktu lalu, kakak bongkar celengan. Ini celengan pertama yang aku belikan untuk Kakak, sejak dia umur 2 tahun, celengan bergambar Thomas kereta. Sejak umur 2 tahun itu dia rajin menabung. Tapi sejak itu masih ada beberapa celengan lagi, diantaranya beberapa sudah dibongkar dengan hasil yang lumayan.
Selama ini biasanya kakak memasukkan receh 500 atau 1000 rupiah, tapi terkadang iseng juga dimasukkannya recehan yang bernilai kecil, bahkan ternyata ada recehan 50 rupiah.
Kakak semangat sekali bongkar celengan. Pertama kuminta dia mengambil Koran bekas dan menggelarnya sebagai alas. Lalu setelah celengan kugunting, dengan gunting besar tentunya, kutuang seluruh isi celengan. Lalu kakak mendapat tugas memilah milah uang recehan itu, dibagi bagi menjadi 500, 100 dan sisa recehan lain. Sementara aku menumpuknya masing masing 10 buah, dan mengikatnya dengan lakban bening. Setelah sekitar 1 jam, akhirnya selesai juga penghitungan, dan setelah dijumlah semua ada sekitar 315 ribu plus uang recehan kecil 100, 200 dan 50 rupiah.
Kakak senang sekali karena hasil celengan kali ini aku bolehkan untuk membeli mainan sesuka hatinya. Akhirnya dia membeli mobil koleksi seri cars, ada mc queen, flo dan lainnya. Kakak juga berbaik hati membelikan adek koleksi kereta Thomas. Waah senangnya, mainan kakak dan adek bertambah lagi deh. Ayo kak, semangat nabung lagi yaa!
05 May 2011
MEMASAK, SUKA ATAU KEWAJIBAN?
Bagi sebagian besar orang, memasak adalah suatu kesukaan. Memasak adalah hobi, atau refreshing di saat senggang. Bagi saya sendiri, apakah arti memasak itu? Apakah suatu kesukaan ataukah kewajiban? Yak benar, jawaban saya, memasak adalah kewajiban, saya sama sekali tak suka memasak. Setiap hari saya harus memasak untuk keluarga kecil saya, terutama untuk krucils yang masih memerlukan gizi tinggi. Setiap hari saya dituntut untuk kreatif membuat makanan, membuat cemilan supaya krucils saya dengan senang hati mau makan, karena mereka begitu pemilih. Mungkin sudah rejeki saya, karena saya tak suka masak, jadi punya krucils yang pemilih dalam soal makanan… hehe… Tapi saya beruntung, sungguh beruntung, karena suami saya bukanlah pemilih makanan dan tak menuntut saya untuk memasak apa yang disukainya. Mungkin karena tahu saya tak suka memasak sepanjang usia saya, entah nanti saat tua, mungkin saya akan berubah sikap (tapiiii kecil kemungkinannya).
Ada teman yang menyarankan, “kalau nggak suka masak, kenapa nggak langganan catering saja? Banyak tuh, dari yang murah sampai yang mahal”. Wah, dalam hal ini saya tidak terlalu percaya pada catering, apalagi menyerahkan urusan makanan krucils tercinta saya pada mereka, bahkan mbak pun tak saya biarkan membantu untuk urusan krucils ini. Alasannya? Pertama, karena saya tak tahu bagaimanakah proses memasak dalam catering itu. Apakah bersih, higienis, tanpa msg, apakah yang memasak mencuci tangan sebelum masak, dan sebagainya pertanyaan yang membuat ragu. Kedua, kalau langganan catering itu kok rasanya seperti makan dijatah ya. Nggak bisa seenaknya makan banyak atau menyesuaikan dengan selera kita. Ketiga, kalau mau memang ada catering yang terjamin kebersihannya, tapi juga terjamin kemahalannya. Sayang ‘kan, dana untuk catering bisa dialihkan untuk urusan lain.
Ada pula yang berkata, “jaman sekarang ‘kan banyak tuh yang instan-instan, bumbu instan, tepung instan, apa aja ada”. Waduh! Ini sama sekali nggak masuk kriteria. Meskipun tak suka memasak, sudah pasti saya hindarkan bahan-bahan instan dari dapur saya. Sudah jelas segala yang instan itu kurang baik, dan mengandung msg. Untuk tepung, selalu saya siapkan berbagai jenis tepung, ada tepung terigu, tepung sagu, tepung panir, tepung maizena, dll, yang saya masukkan dalam wadah masing-masing dan diberi tulisan supaya tak tertukar. Saat memasak, tinggal saya kolaborasikan berbagai tepung itu. Untuk bumbu, tanpa msg pun rasanya enak kok, yang utama ada garam, gula, merica bubuk, bawang putih, semua akan mudah teratasi. Karena saya nggak suka masak, jadi saya sering membuat yang praktis-praktis. Terus terang, saya tak betah berlama-lama di dapur.
Saya tak suka memasak, bukan berarti saya tak bisa memasak. Jadi selagi saya bisa, akan saya lakukan, walaupun saya menganggapnya sebagai kewajiban. Terkadang saya melakukannya dengan senang hati, terkadang saya melakukannya dengan setengah hati kalau lagi malas, terkadang juga saya memesan makanan delivery kalau lagi sangat malas. Kalau boleh memilih, kalau ada yang memasakkan untuk keluarga saya, saya lebih suka dimasakkan, tinggal makan saja. Tapi tentunya dengan berbagai persyaratan, yang sesuai dengan yang saya inginkan. Oke, apapun yang terjadi, demi anak supaya tak kurang gizi, marilah memasak!! (curhat kecil di sela kesibukan nih… hehe…)
Ada teman yang menyarankan, “kalau nggak suka masak, kenapa nggak langganan catering saja? Banyak tuh, dari yang murah sampai yang mahal”. Wah, dalam hal ini saya tidak terlalu percaya pada catering, apalagi menyerahkan urusan makanan krucils tercinta saya pada mereka, bahkan mbak pun tak saya biarkan membantu untuk urusan krucils ini. Alasannya? Pertama, karena saya tak tahu bagaimanakah proses memasak dalam catering itu. Apakah bersih, higienis, tanpa msg, apakah yang memasak mencuci tangan sebelum masak, dan sebagainya pertanyaan yang membuat ragu. Kedua, kalau langganan catering itu kok rasanya seperti makan dijatah ya. Nggak bisa seenaknya makan banyak atau menyesuaikan dengan selera kita. Ketiga, kalau mau memang ada catering yang terjamin kebersihannya, tapi juga terjamin kemahalannya. Sayang ‘kan, dana untuk catering bisa dialihkan untuk urusan lain.
Ada pula yang berkata, “jaman sekarang ‘kan banyak tuh yang instan-instan, bumbu instan, tepung instan, apa aja ada”. Waduh! Ini sama sekali nggak masuk kriteria. Meskipun tak suka memasak, sudah pasti saya hindarkan bahan-bahan instan dari dapur saya. Sudah jelas segala yang instan itu kurang baik, dan mengandung msg. Untuk tepung, selalu saya siapkan berbagai jenis tepung, ada tepung terigu, tepung sagu, tepung panir, tepung maizena, dll, yang saya masukkan dalam wadah masing-masing dan diberi tulisan supaya tak tertukar. Saat memasak, tinggal saya kolaborasikan berbagai tepung itu. Untuk bumbu, tanpa msg pun rasanya enak kok, yang utama ada garam, gula, merica bubuk, bawang putih, semua akan mudah teratasi. Karena saya nggak suka masak, jadi saya sering membuat yang praktis-praktis. Terus terang, saya tak betah berlama-lama di dapur.
Saya tak suka memasak, bukan berarti saya tak bisa memasak. Jadi selagi saya bisa, akan saya lakukan, walaupun saya menganggapnya sebagai kewajiban. Terkadang saya melakukannya dengan senang hati, terkadang saya melakukannya dengan setengah hati kalau lagi malas, terkadang juga saya memesan makanan delivery kalau lagi sangat malas. Kalau boleh memilih, kalau ada yang memasakkan untuk keluarga saya, saya lebih suka dimasakkan, tinggal makan saja. Tapi tentunya dengan berbagai persyaratan, yang sesuai dengan yang saya inginkan. Oke, apapun yang terjadi, demi anak supaya tak kurang gizi, marilah memasak!! (curhat kecil di sela kesibukan nih… hehe…)
Subscribe to:
Posts (Atom)