Semester 1 tlah usai, hari yg dinanti tiba juga. Hari ini, tepatnya pagi tadi, ambil rapor Ditya. Saya selalu menatikan hari ini. Ada 4 kali dalam setahun, tengah semester dan akhir semester 1 dan 2. Tentu saja, sebagai mama, saya selalu ingin tahu dan berharap nilai rapor Ditya bagus. Tapi lebih dari itu, saya menantikan hari rapor karena bisa ngobrol dan berkonsultasi dengan guru kelasnya. Ngobrol tentang anak saat di sekolah, tentang perkembangannya, tentang sosialisasinya dengan teman, tentang penerimaannya terhadap pelajaran, tentang minatnya, dan sebagainya. Walaupun cuma 15-20 menit, rasanya selalu menyenangkan.
Bagaimana dengan hasil rapornya? Satu hal yg saya suka di sekolah Ditya adalah tidak adanya sistem ranking. Jadi tidak ada anak yg merasa lebih pintar dari yg lain, atau orang tua yg berlebihan membanggakan anaknya. Tiap anak punya kemampuan dan bidang masing2 yg menonjol.
Seperti Ditya, sejak kelas 1, hingga kelas 2 ini nilai matematika dan sains terlihat konsisten dan stabil, mungkin memang minatnya di bidang itu. Sedangkan nilai olah raga dan seni, selalu biasa saja.. hehe..
Yang penting menurut saya adalah proses, hasil juga penting. Tapi dari proses itu bisa terlihat, ke arah mana minatnya berkembang. Sebagai orangtua, tinggal mengikuti dan memberi perhatian dan fasilitas semampu kita.
Yeay!! Libur tlah tiba!!
Dan hidup itu indah... Dengan Matahari dan Bintang yang selalu menyinari siang dan malam...
22 December 2012
Hari Rapor yang Dinanti
07 December 2012
(Mulai) Mencintai Ungu
Dulu saya nggak pernah melirik warna ungu, bahkan cenderung nggak suka. Apapun yang berwarna ungu sebisa mungkin saya hindari, kalo masih ada pilihan lain. Memang ada sih beberapa benda benda saya yang berwarna ungu, tapi bisa dihitung dengan jari. Saya cinta mati dengan warna biru, sungguh cinta mati, terutama biru yang lembut, biru muda. Benda benda saya yang berwarna biru, tak terhitung lagi, buanyaaakk banget. Setiap memilih sesuatu pasti jatuh pada warna biru. Nah sekarang, entah kenapa, saya pun nggak tahu dan nggak ingat penyebabnya, saya mulai menyukai warna ungu. Rasanya kok ungu itu indah juga ya, terutama ungu terong atau ungu tua. Kalau ungu muda sih, saya belum meliriknya. Sekarang saya mulai punya baju baju warna ungu, tas warna ungu, jilbab warna ungu bahkan sepatu warna ungu. Walaupun biru tetap nomor satu, di atas segalanya! Wah, ternyata pikiran orang memang bisa berubah yaa :-)
Lain saya, lain pula suami saya. Dia mulai menyukai warna ungu, karena perusahaan tempatnya bekerja berlogo warna ungu. Otomatis interior kantor dan berbagai perlengkapannya pun berwarna ungu. Nah, dengan maksud menyesuaikan dengan kantornya itu, suami saya pun punya kemeja ungu, kaos ungu dll (ungu tua tentunya). Seperti lazimnya para pria, suami saya pun cenderung suka warna hijau army, hitam atau biru dongker. Tapi sekarang, ungu telah jadi alternatif pilihan warna buat dia deh :D
Pelajaran yang bisa saya ambil adalah, jangan berlebihan membenci atau tak suka sesuatu, suatu saat bisa jadi kita akan berbalik menyukainya (^_^)
30 April 2012
Krombong Sampah di Sekolah Ditya
16 April 2012
Merindukan si Mbak!!
Si mbak itu, mbak terbaik yang pernah saya miliki selama ini. Dia sudah 2 tahun bekerja di rumah saya. Memang bukan asisten rumah tangga yang nginap, hanya datang di pagi hari jam setengah 8, lalu pulang sekitar jam 11. Dia mengontrak rumah di kampung dekat komplek rumah saya, suaminya seorang tukang bangunan, dan anaknya masih umur 4 tahun. Semua orang di rumah ini suka sama dia, bahkan orang tua saya, mertua saya juga suka, bahkan saat main ke rumah saya, mereka selalu memberi sekedar uang saku.
Kala itu, sungguh nggak terbayang hidup tanpa si Mbak. Dia itu orangnya tulus dan polos, apapun yang saya minta kerjakan, akan dikerjakannya tanpa banyak tanya atau mengeluh, nggak pernah menyisakan pekerjaan, dan nggak banyak ngomong, kerjanya juga cepat dan rapi. Pokoknya paling top!! Sedih banget kan ditinggal mbak yang begitu baiknya :(
Lalu saya minta tolong dia mencarikan pengganti, mungkin ada tetangga kontrakannya yang masih mencari pekerjaan. Akhirnya saya dapatkan, tapi hanya bertahan 1,5 bulan, karena saya nggak cocok, sifatnya sangat jauh berbeda dengan si Mbak, dan kerjaannya pun sangat jauh beda. Saya pikir lebih baik saya kerjakan sendiri daripada saya malah stress dengan sifat dan kerjaan si mbak yang baru.
Ya sudah, pada akhirnya sampai sekarang semua kerjaan rumah saya tanggulangi sendiri. Memang sangat melelahkan dan yang jelas waktu saya untuk melakukan hal hal lain jadi banyak berkurang, rasanya waktu 24 jam itu nggak cukup walaupun tidur saya nggak terlalu banyak.
oh mbakku sayang, kembalilah kemari mbak!! i really really need you!! ehehe... lebay dikit :D Tapi sungguh deh, saya sangat berharap tiba tiba si mbak kembali lagi kemari.
Semoga...
09 April 2012
Sayur Organik memang Enaaakk!!
Tanpa disangka, tiba tiba minggu lalu seorang teman menawarkan sayuran organik. Saya lihat daftar harganya nggak terlalu mahal seperti di supermarket, dan ongkirnya pun sangatlah wajar. Mulailah saya memesan sayur organik pada dia. Pesanan pertama adalah buncis baby, wortel, tomat, kentang dan bayam hijau.
Waah, ternyata di luar dugaan, si Kakak mendadak minta dikupaskan wortel, dan dengan lahap memakan wortel mentah sebagai cemilan sambil nonton tv, nggak tanggung tanggung dia habis 2 buah. Senang senang!! Keesokan harinya, si adek pun ikut ikut minta makan tomat mentah. Jagoanku memang hebat! Bisa banget ya membedakan sayuran yang enak dan nggak... hehe... Waktu buncisnya saya masak pun, adek dengan lahap makan buncisnya, kries kries!
Akhir pekan, saat mertua datang pun saya masakkan buncis baby, dengan bumbu yang sangat simpel, hanya bawang putih, bawang bombay, daging cincang, garam, gula, merica lalu ditumis sebentar. Ternyata ibu mertua pun suka, malah minta mentahnya, tapi udah abis sayangnya. Jadilah Ibu minta oleh oleh buncis baby kalau saya mudik nanti.
Jadi ingat dulu dosen saya pernah bilang, "sayuran itu kalau ada ulatnya berarti bagus dan lebih aman dikonsumsi, karena ulat aja mau makan dan nggak mati "kan?" Jadi sekarang pun kalau makan sayur organik, nggak perlu kaget kalau tiba tiba nemu ulat... hehe... Yang jelas dan pasti sih lebih sehat karena nggak pake pestisida dan semprotan semprotan lain yaa.
Ternyata sayur organik disukai banyak orang nih! Yang paling menyenangkan adalah krucils jadi mau makan sayur. Hidup sayur organik!!
19 March 2012
Menyetrika itu Menyenangkan!!
Hingga akhirnya saya diberi tugas harian menyetrika saat SMA, menyetrika baju seluruh anggota keluarga lhoo. Tapi kalau saya sibuk mama atau papa pasti membantu sih, nggak harus saya terus terusan.
Begitulah awal mula saya sangat menyukai menyetrika baju dan yang lainnya. Pergerakan dari membuat kain yang tadinya kusut, lalu perlahan digosok oleh setrikaan dan menjadi halus, itulah proses yang setiap saat saya sukai. Saya selalu memperhatikan proses itu, rasanya indah dan ada kesenangan tersendiri, bahkan hingga sekarang saya telah punya 2 anak, tak lupa selalu saya perhatikan dan nikmati proses itu. Sepertinya agak berlebihan ya? Ehehe… bagi saya tidak, itulah kesenangan tersembunyi saya.
Beberapa tahun lalu, bahkan urusan setrika menyetrika ini yang membuat saya berat dan malas untuk cari asisten rumah tangga. Rasanya nggak ikhlas menyerahkan tugas menyenangkan ini kepada si mbak. Tapi apa boleh buat, ketika itu saya memang membutuhkan bantuan. Hasilnya, dari semua pekerjaan si mbak, pekerjaan menyetrika itulah yang benar-benar saya beri perhatian ekstra. Apakah cukup halus setrikaannya? Apakah lipatannya benar? Apakah tingkat kepanasan setrikaannya tepat? Seperti itulah.
Akhirnya, tahun lalu, saat mbak tersayang yang telah bekerja 2 tahun lebih denganku pulang kampung dan tak kembali lagi, pekerjaan setrika menyetrika kembali menjadi urusan saya. Waaah… senangnya!! Rasanya kalau sehari nggak menyetrika itu ada sesuatu yang kurang. Rasanya kalau melihat baju setumpuk yang kusut membuat mata ini berbinar-binar ingin menyetrikanya. Tapi terkadang nggak semudah itu, karena pekerjaan rumah tangga lain juga banyak, jadi urusan setrika ini mesti menunggu giliran juga.
Oh iya, paling nggak suka banget kalau lagi asik setrika, di belakang saya atau di sekitar saya, krucils berantem atau ribut tak tentu arah. Duuh, kesel deh, mengganggu kenikmatan saja... hehe…
Yah, pokoknya apapun yang terjadi saya selalu menikmati menyetrika semuanya, baju, kaos, kain, atau apapun itu. (Sssst, tapi ada yang saya nggak suka ding. Paling nggak suka kalau mesti menyetrika seprei yang besar, seprei ukuran king yang selalu dipakai di kamar saya. Duh, susahnyaaaa :D)
Mari menyetrika!!
09 March 2012
Pengelolaan Keuangan Keluarga
Prinsip dasar keluangan keluarga kami ada keuangan terbuka, artinya saling terbuka pendapatan masing-masing dan menyatukan pendapatan itu untuk kepentingan keluarga. Jadi ini berlaku sejak saya masih bekerja, hingga sekarang saya hanya bekerja freelance.
Dulu waktu awal menikah, gaji saya masuk tabungan, gaji suami untuk kebutuhan hidup. Tentu saja saya selalu melakukan budgeting, tapi hanya ditulis tangan dan tidak terlalu rinci.
Sekarang, sudah beberapa tahun saya terapkan, saya melakukan budgeting setiap akhir bulan setelah suami menerima gaji. Budgeting saya sekarang nggak tanggung-tanggung, saya buat dengan program excel berupa pemasukan dan biaya biaya, dengan file tersendiri. Isinya pun lengkap dan detil. Berbagai pos keuangan saya tulis disitu, tentu saja tergantung kebutuhan tiap keluarga ya. Di antaranya:
1.Yang paling utama harus ditulis adalah cicilan-cicilan, rumah, mobil, atau apapun hutang yang harus kita cicil.
2.Lalu biaya sekolah anak, dari SPP, uang saku, biaya les, asuransi anak, catering sekolah, biaya ekskul.
3.Kewajiban-kewajiban yang harus dibayar juga jangan lupa, seperti Listrik, PAM, iuran sampah dan keamanan RT, dll.
4.Setelah itu masukkan pos kebutuhan pokok, seperti belanja sehari-hari, biaya transport, bensin, pulsa dll.
5.Pos Zakat dan shodaqoh juga harus dipastikan selalu ada yaa.
6.Setelah semua yang wajib dipenuhi kebutuhannya selesai kita buat, berikutnya buat pos pos tambahan tergantung keperluan, diantaranya pos hobi (seperti saya dan suami punya hobi masing-masing yang tiap bulan perlu dana, jadi sudah masuk anggaran), lalu pos tabungan (pastikan selalu ada ya), pos sumbangan ( disini maksudnya adalah sumbangan untuk orang tua, adek atau kakak atau siapapun yang kita merasa perlu membantu secara rutin, sebisa mungkin ini diluar zakat dan shodaqoh ya, untuk keluarga tersayang nggak perlu terlalu pelit ‘kan :D).
7.Nah, setelah itu bila perlu masukkan juga pos rekreasi, misalnya mau rekreasi setiap bulan atau ada rencana jalan-jalan besar saat liburan sekolah, bisa dicicil dananya jauh-jauh hari, jadi pas hari H kita nggak bingung cari dana dari mana.
8.pos dana darurat juga perlu, misalnya tiba-tiba ada kondangan atau ada iuran sumbangan, atau apapun yang pengeluarannya bukan rutin.
9.Terakhir, masukkan pos investasi bila perlu. Misalnya kita berencana untuk berinvestasi emas, deposito, SUKRI (Sukuk Ritel) atau apapun, ini bisa direncanakan jauh-jauh hari. Bisa juga dilakukan dengan menyisihkan bonus atau THR tahunan, karena bonus dan THR bukan cuma untuk bersenang-senang saat ini, masa depan perlu juga dipikirkan dong.
Selesai deh budgeting bulanannya. Sebaiknya hal ini dilakukan tiap bulan, karena terkadang biaya tiap bulan berubah-ubah, mungkin juga pendapatan berubah-ubah. Usahakan seimbang antara pemasukan dan pengeluaran. Agak memakan waktu memang membuatnya, tapi percaya deh, kalau udah dijalankan keuangan akan jadi lebih teratur dan terencana.
Oh iya, ini juga membuat suami jadi lebih tahu, untuk apa saja uang yang kita pegang setiap bulan digunakan. Yang penting saling terbuka antara suami dan istri akan lebih mempermudah pengelolaan keuangan.
Semoga bermanfaat ya ^-^
07 March 2012
Main Futsal
Saking semangatnya, perlengkapan Ditya pun makin lama makin komplit. Awalnya Ditya cuma punya sepatu futsal, itu pun susah banget nyari ukuran yang pas buat dia. Lalu berlanjut dengan bola futsal yang dibelikan omanya. Dan sekarang, makin komplit dengan decker dan kaus kaki futsal deh. Makin semangat latihan yaaa...
Apalagi latihannya nggak cuma di lapangan sekolah, beberapa minggu sekali berlatih juga di tempat latihan futsal yang sesungguhnya. Kapten untuk timnya pun dipilih setiap minggu, jadi bergiliran, setiap anak akan pernah merasakan menjadi Kapten, dan bisa memilih anggota timnya sesuka hati.
Senang deh lihat anak SD sekarang udah heboh dengan hobi dan kegiatan kesukaan sendiri.
Semangat Ditya!!
05 March 2012
Ikan Segar Ikan Enakkk!
Selama ini rasanya sebal juga, kadang beli di abang. sayur, tampaknya segar. Eeeeeh pas mau dimasak, ternyata nggak segar, bahkan ada yang udah nggak layak masak apalagi dimakan deh. Tertipuuuuuuu.... dibuang deh akhirnya, membuang energi, membuang uang juga. Sebel banget deh rasanya. Nah,sekarang jadi pelanggan tukang ikan belakang komplek. Bye bye ikan abang sayur.
Yuuukkk makan ikan!!
14 November 2011
Nonton Film Beda Studio
Sejak bulan lalu sudah heboh tentang nonton bareng Sang Penari di Twitter, karena saya follow akun film tersebut. waaah tambah nggak sabar aja rasanya menanti bulan November, tanggal 10 tepatnya, saat film itu diputar untuk umum.
BErhubung tanggal 10 adalah hari Kamis, nggak mungkin bagi saya nonton di hari itu, karena nggak mungkin ngajak krucils karena itu bukan film anak-anak. Jadilah dengan sabar saya menanti lagi hingga weekend tiba. Ternyata hari Sabtu, suami saya ada urusan di kantor hingga larut malam, nggak mungkin nonton deh. Akhirnya hari Minggu kemarin saya bulatkan tekad untuk nonton. Saya belum pernah nonton sendirian di bioskop, selalu bersama orang lain. Jadi kali ini saya pun berpikir untuk mengajak teman. Tapi ternyata di Detos diputar juga film Johnny English, yang saya rasa aman untuk anak-anak. Jadilah muncul ide, kenapa nggak nonton bareng aja. Suami dan krucils nonton Johnny English, sedangkan saya nonton Sang Penari. Kak Ditya juga senang dengan ide ini. Akhirnya kemarin kami ber-4 nonton film yang berbeda di bioskop yang sama, karena kebetulan jam tayangnya juga hampir sama, selisih setengah jam saja. JAdi weekend yang seru deh!!
Oh iya, tentang Sang Penari sendiri, 2 jempol dari saya untuk filmnya!! Meskipun agak sedikit ada perbedaan dengan novelnya, tapi tetep bagus dan keren :D
17 October 2011
KEMBALI KE MOTOR
NAH, karena akhir akhir ini jadi banyak mengandalkan ojek, jemput kakak, bayar PAM, kesana kemari kesana kemari, saya merasa sayang dong. Sekali naik ojek bolak balik paling nggak 10 ribu, belum lagi kalau ke sekolah kakak trus ojeknya nungguin, bisa 15 ribu, belum lagi ke giant dekat rumah ojeknya nungguin juga bisa 25 ribu. Coba deh dihitung, lumayan kan biaya per bulannya. Secara juga saya punya kemampuan nyetir motor yang telah disia siakan selama 10 tahun ini. Ditambah lagi jemputan sekolah kakak yang 225 ribu per bulan, bisa dihemat kalo saya antar jemput sendiri naik motor kan. Setelah berhitung penghematan yang akan bisa terjadi dengan adanya motor, saya putuskan untuk membeli motor, eh bukan keputusan saya ding, keputusan saya dan suami dong. Awalnya sih suami saya nggak setuju, dengan nego nego yang indah, akhirnya setuju juga, tapi dengan syarat nggak boleh naik motor sampai jalan raya yang gede dan ramai, apalagi bawa anak-anak, sangat tidak diijinkan! Baiklah, saya setuju saja :D
Akhirnya motor pesanan kami tiba! Yeay, senang sekali! Apalagi anak-anak, serasa punya mainan baru. Tumbenan kali ini suami saya langsung membolehkan saya nyetir sendiri, walaupun udah 10 tahun nggak nyetir. Sepertinya semangat saya membuat dia jadi percaya 1000 persen tuh. Wah, tanpa diduga saya ternyata masih bisa. Senang senang riang! Awalnya saya keliling jalanan deket rumah, lama lama tambah jauh sampai ke sekolah kakak, dan mulai iseng jemput kakak, tentu saja dengan mengajak adek. Dia duduk di depan, sedangkan kakak bonceng di belakang. Seru juga! Oh iya, kali ini saya beli motor matic, sepertinya lebih enak dan mudah. Dulu motor yang saya naiki motor manual biasa. Kalo kata orang-orang sih matic lebih gampang ya.
Satu hal yang sebetulnya membuat saya nggak enak hati, yaitu abang ojek yang ada di perempatan dekat rumah. Sepertinya mereka semua patah hati. Melihat saya mondar mandir naik motor sendiri, tatapan mereka seperti menusuk nusuk hati. Walaupun mereka tersenyum sih. Rasanya mereka seperti ingin bilang, “wah penghasilan gue berkurang nih!” Yah, tapi mau gimana lagi, saya juga perlu melakukan penghematan kan ya. Maafkan daku ya abang ojek, hidup harus terus berjalan, dan perubahan bisa datang kapan saja. Yak, segitu aja melankolisnya. Mari lanjutkan kegembiraan. Yuuukkk naik motor lagiiii!!
05 May 2011
MEMASAK, SUKA ATAU KEWAJIBAN?
Ada teman yang menyarankan, “kalau nggak suka masak, kenapa nggak langganan catering saja? Banyak tuh, dari yang murah sampai yang mahal”. Wah, dalam hal ini saya tidak terlalu percaya pada catering, apalagi menyerahkan urusan makanan krucils tercinta saya pada mereka, bahkan mbak pun tak saya biarkan membantu untuk urusan krucils ini. Alasannya? Pertama, karena saya tak tahu bagaimanakah proses memasak dalam catering itu. Apakah bersih, higienis, tanpa msg, apakah yang memasak mencuci tangan sebelum masak, dan sebagainya pertanyaan yang membuat ragu. Kedua, kalau langganan catering itu kok rasanya seperti makan dijatah ya. Nggak bisa seenaknya makan banyak atau menyesuaikan dengan selera kita. Ketiga, kalau mau memang ada catering yang terjamin kebersihannya, tapi juga terjamin kemahalannya. Sayang ‘kan, dana untuk catering bisa dialihkan untuk urusan lain.
Ada pula yang berkata, “jaman sekarang ‘kan banyak tuh yang instan-instan, bumbu instan, tepung instan, apa aja ada”. Waduh! Ini sama sekali nggak masuk kriteria. Meskipun tak suka memasak, sudah pasti saya hindarkan bahan-bahan instan dari dapur saya. Sudah jelas segala yang instan itu kurang baik, dan mengandung msg. Untuk tepung, selalu saya siapkan berbagai jenis tepung, ada tepung terigu, tepung sagu, tepung panir, tepung maizena, dll, yang saya masukkan dalam wadah masing-masing dan diberi tulisan supaya tak tertukar. Saat memasak, tinggal saya kolaborasikan berbagai tepung itu. Untuk bumbu, tanpa msg pun rasanya enak kok, yang utama ada garam, gula, merica bubuk, bawang putih, semua akan mudah teratasi. Karena saya nggak suka masak, jadi saya sering membuat yang praktis-praktis. Terus terang, saya tak betah berlama-lama di dapur.
Saya tak suka memasak, bukan berarti saya tak bisa memasak. Jadi selagi saya bisa, akan saya lakukan, walaupun saya menganggapnya sebagai kewajiban. Terkadang saya melakukannya dengan senang hati, terkadang saya melakukannya dengan setengah hati kalau lagi malas, terkadang juga saya memesan makanan delivery kalau lagi sangat malas. Kalau boleh memilih, kalau ada yang memasakkan untuk keluarga saya, saya lebih suka dimasakkan, tinggal makan saja. Tapi tentunya dengan berbagai persyaratan, yang sesuai dengan yang saya inginkan. Oke, apapun yang terjadi, demi anak supaya tak kurang gizi, marilah memasak!! (curhat kecil di sela kesibukan nih… hehe…)
23 March 2011
Peluk, Mama!
Sejak anakku, raditya (2,5), lahir, aku berhenti bekerja karena ingin merawatnya sendiri, aku tak bisa mempercayakan pengasuhannya pada orang lain. Karena aku juga ingin memberinya asi eksklusif. Saat usia 6 bulan, dia mulai mendapatkan makanan pendamping dan sedikit susu formula. Karena itu aku berencana untuk menghentikan pemberian asi maksimal nanti saat dia berusia 2 tahun.
Menginjak usia 1 tahun, susu formula yang diminumnya sudah bertambah banyak. Di samping itu, dia juga sudah mulai mengkonsumsi berbagai jenis makanan untuk kecukupan gizinya. Hanya saja, raditya tergolong susah makan, karena itu aku merasa belum tega untuk menghentikan pemberian asi. Aku pikir, mungkin nanti saat usianya 1,5 tahun akan kucoba pelan-pelan. Raditya juga ketergantungan pada asi, karena dia selalu minum asi sebelum tidur. Hal inilah yang membuatku bingung, tentang bagaimana cara menghentikannya. Apakah akan sulit atau tidak. Juga pertanyaan-pertanyaan lain seperti apakah nanti dia bisa tidur kalau aku tidak memberinya asi lagi. atau Apakah akan berpengaruh secara psikologis atau tidak, karena saat dia menangis atau merasa tidak tenang, aku sering menenangkannya dengan memberinya asi.
Saat usianya 1,5 tahun lebih, aku mulai membulatkan tekad untuk menghentikan pemberian asi. Tapi aku ingin menggunakan cara-cara halus, yang bisa dipahaminya. Banyak juga saudara dan teman yang menyarankan untuk menyapihnya dengan cara memberi jamu pada putting biar terasa pahit, atau memberi lipstick merah pada putting dan berpura-pura payudaranya sakit. Aku merasa cara-cara itu kurang sesuai, jadi seperti menipu anakku sendiri dan mungkin bisa menyebabkannya merasa bersalah karena membuat mamanya sakit. Selain itu, pernah kubaca juga dari beberapa majalah dan literatur tentang batita, cara seperti itu kurang bagus untuk psikologis anak. Lebih baik anak diberi pengertian tentang sudah saatnya tidak minum asi. Jadi mulailah aku sering bercerita padanya tentang anak, dan juga orang dewasa yang sudah makan buah, sayur, nasi, lauk pauk dan minum susu, tidak perlu lagi minum asi. Aku mencontohkannya dengan diriku, mamanya dan juga ayahnya yang sudah tidak minum asi lagi karena sudah makan macam-macam seperti raditya. Aku juga bercerita tentang sepupunya yang lebih muda dari dia, tapi sudah tidak minum asi. Pelan-pelan kujelaskan kenapa kalau sudah besar tidak perlu minum asi lagi. Tentu saja dengan bahasa sederhana yang dia mengerti, dan dengan cara yang tidak membuatnya bosan. Dan dia tampak berusaha memahami penjelasan dan ceritaku. Sampai dengan saat aku berusaha menjelaskan hal itu, di otakku masih belum terpikirkan bagaimana caranya dia tidur kalau sudah tidak minum asi, karena selama ini dia harus tidur dengan asi. Hal ini sebenarnya kesalahanku, yang selalu menidurkannya dengan cara memberinya asi sebelum tidur. Seandainya sejak awal aku tidak melakukan ini, mungkin akan lebih mudah bagi aku untuk menyapihnya.
Setelah cerita dan penjelasanku kepada raditya selama beberapa bulan, tibalah saatnya bagiku untuk mencoba menghentikan pemberian asi sama sekali, karena dia sudah menginjak usia 2 tahun. Sebelumnya aku sudah mengurangi asi untuknya, dengan hanya memberinya asi 2 kali sehari, yaitu saat akan tidur siang dan saat akan tidur malam. Dan hal itu tampaknya tidak ada masalah bagi dia, karena konsumsi makanan dan susu formulanya juga sudah mulai bertambah, sebanding dengan usianya..
Awalnya aku mencoba sehari untuk tidak memberinya asi. Dan seperti yang kuduga, yang menjadi masalah adalah saat dia akan tidur, dia rewel dan tampak kebingungan. Perlahan sebelum tidur, aku bercerita tentang anak yang tidak minum asi lagi. Kemudian aku membacakan buku untuknya, lalu menyanyi nyanyian tidur. Tetapi tampaknya usahaku ini kurang berhasil, karena hampir 2 jam setelah masuk kamar dia tidak kunjung tidur. Akhirnya dia tertidur sendiri karena kelelahan. Aku sudah berhasil tidak memberinya asi selama sehari. Hari berikutnya aku memberinya asi lagi, tapi kali ini hanya saat malam hari. Beberapa hari berlangsung seperti itu, jadi aku hanya berusaha saat siang hari dengan berbagai cara untuk membuatnya tidur. Sementara itu aku mulai berusaha lagi untuk menghentikan pemberian asi. Beberapa kali berhasil, beberapa kali gagal juga. Pernah suatu ketika aku berhasil membuat dia tidak minum asi selama 3 hari berturut-turut, tapi saat hari keempat tiba-tiba dia terserang panas tinggi. Aku jadi khawatir dan kembali memberinya asi. Entah memang kondisi tubuhnya yang sedang menurun atau karena faktor psikologis. Selama kurang lebih 2 minggu aku kembali memberinya asi. Lalu aku kembali berusaha menyapihnya. Dan seperti sebelumnya beberapa kali berhasil, beberapa kali gagal karena dia menangis atau rewel.
Selama kurang lebih 3 bulan aku terus mencoba menyapihnya. Aku hampir saja putus asa, karena lelah dan tidak tega melihatnya. Tetapi suamiku terus mendukungku, kadang dia yang berusaha menidurkan raditya, meski terlihat kerepotan juga. Sementara aku mengasingkan diri di kamar lain agar dia tidak teringat untuk minum asi.
Dari beberapa hari saat dia tidak minum asi, tampaknya raditya mulai mencoba mencari cara sendiri untuk bisa tidur. Selain minta dibacakan buku cerita sebelum tidur, dia juga berusaha mengajak ngobrol, atau menanyakan berbagai hal dengan kata-katanya yang sepotong-sepotong. Misalnya bercerita tentang mobil mainannya, bertanya tentang nama suatu benda, belajar berhitung dan lain sebagainya. Aku pikir ada hikmahnya juga, dia jadi bisa mengasah bicaranya dan bisa hafal seluruh isi buku ceritanya. Kadang bukan aku yang bercerita, tapi dia yang menceritakan isi bukunya padaku. Kadang juga dia berkata padaku”mama, lihat ditya!” Maksudnya adalah, aku melihatnya sampai dia tertidur, aku tidak boleh tidur duluan. Lama-lama aku jadi menikmati ritual sebelum tidur yang dilakukannya. Aku bisa menceritakan berbagai hal sebelum tidur, atau menanyakan berbagai hal padanya. Ini membuatku merasa lebih dekat lagi dan lebih memahami anakku.
Akhirnya setelah berbulan-bulan mencoba menyapih raditya, dengan berkali-kali kegagalan dan keberhasilan dan juga dengan berbagai kerepotan dan kesenangan tersendiri, aku berhasil menghentikan pemberian asi pada dia. Dia sudah sama sekali tidak meminum asi saat usianya kurang lebih 2 tahun 2 bulan. Dan dia sama sekali tidak pernah menanyakan tentang asi. Bahkan dia selalu tersipu saat kami menggodanya tentang minum asi. Kata dia “mimik mama kan buat adek bayi, ditya kan udah anak-anak”. Hal ini membuat aku dan suamiku tersenyum-senyum sendiri sekaligus merasa lega.
Hingga saat ini, kurang lebih sudah 4 bulan dia tidak minum asi lagi. dan dia pun sepertinya masih mencari cara yang nyaman untuk bisa tidur. Selain membaca buku, kadang dia membawa mobil mainannya ke dalam kamar, aku membolehkannya dengan janji hanya sebentar bermain mobil. Atau kadang dia loncat-loncatan di atas tempat tidur, meski hanya sebentar.
Suatu malam tiba-tiba setelah berdoa bersamaku dan dia sudah berposisi akan tidur, dia berkata, “mama, lihat ditya! Peluk ditya!” dan aku pun secara otomatis memeluknya dan memandanginya sampai dia tertidur. Hari berikutnya hal ini terulang lagi dan lagi. Kadang dia hanya mengatakan”mama, peluk!” atau “sini, peluk mama!”. Hal ini berlangsung terus selama beberapa hari. Tanpa terasa ini menjadi suatu ritual baru bagi dia sebelum tidur. Jadi saat ini setiap malam sebelum tidur, dia akan selalu minta dipeluk olehku. Dan perlahan dia akan tertidur pulas. Rupanya cara inilah yang dicarinya selama ini. Karena setelah pelukanku ini, dia relatif lebih cepat tertidur.
Aku merasa bahagia sekali, ternyata selama ini yang dicarinya adalah pelukanku sebelum tidur. Aku menyesal kenapa tidak dari dulu aku melakukan itu. Jadi aku tidak perlu repot dan menghabiskan waktu lama dengan membacakannya setumpuk buku (yang kadang malah semakin membuat dia berkonsentrasi dan tidak mengantuk) atau menyanyikan lagu sebelum tidur sampai aku sendiri kelelahan menyanyi (kadang dia malah jadi ikut menyanyi). Saat ini yang kami lakukan saat akan tidur hanya berdoa, lalu mengobrol sebentar dan dia akan meminta dipeluk lalu perlahan tertidur sambil kami saling berpandangan.
Tentang pelukan ini, suamiku juga merasa heran. Pernah suatu saat dia mencobanya. “ditya dipeluk ayah aja ya” kata suamiku, dan tanpa diduga dengan tegas dia menolak “ndak mau, sama mama aja”. Aku jadi tidak enak hati pada suamiku, seolah-olah anakku itu membeda-bedakan antara ayah dan mamanya. Padahal raditya melakukan itu mungkin karena dia lebih merasa nyaman tidur dalam pelukanku, yang memang sehari-hari selalu bersamanya. Tapi suamiku tidak mempermasalahkan hal itu. Karena untuk masalah kedekatan, anakku juga dekat sekali dengan ayahnya. Ada hal-hal tertentu yang dilakukannya hanya saat bersama ayahnya, sementara dia tidak melakukannya denganku. Tampaknya dia sudah bisa membagi sendiri yang mana yang dilakukan dengan mamanya dan yang mana yang dilakukan bersama ayahnya.
Sebagai buah dari usahaku berbulan-bulan untuk menyapihnya, ternyata tidak hanya aku berhasil membuatnya berhenti minum asi, tapi juga aku semakin dekat dan semakin memahami dia, dan yang utama kata-katanya “mama, peluk!” selalu membuatku terngiang dan ingin menidurkannya. Rasanya bahagia sekali. Ternyata kesabaran itu memang membuahkan hasil yang manis.
(aku tulis 3 agustus 2007)
* sebuah kisah klasik waktu menyapih Ditya... jadi terkenang kembali karena harus menyapih Bintang dalam waktu dekat :D
01 October 2010
Untuk Hari Tua
1. Jangan jahat sama anak, karena saat tua nanti kitalah yang akan membutuhkan mereka.
Saat tua, biasanya kita membutuhkan berbagai hal, belum lagi penyakit yang sering menghampiri orang tua. Jadi bisa dipastikan kita akan sangat membutuhkan bantuan anak-anak.
2. Asuransi kesehatan untuk hari tua sangat penting, harus dipersiapkan dari sekarang.
Yak benar. Saat ini mungkin asuransi kesehatan kita ditanggung oleh kantor. Tapi bagaimana saat sudah pensiun nanti?? Kalo PNS atau BUMN mungkin menanggungnya hingga sudah pensiun, tapi kalo bekerja di bidang swasta, benar benar harus dipikirkan secara serius. Karena berbagai penyakit suka berteman dengan orang tua.
3. Mana ada mertua yang cocok dengan menantu perempuan.
Ups! Ini ibu tetangga yang bilang, yang telah menikah puluhan tahun, saat kutanya kenapa ibu mertuanya yang tinggal sendirian itu, tidak tinggal dengan mereka saja. Karena anakku dua-duanya cowok, berarti aku harus belajar untuk menjadi sahabat istrinya, biar akrab dan dekat. Bukan hanya menjadikannya anak menantu, karena pasti beda, kan dia punya ibu sendiri. Hem, yang ini urusannya sama perasaan yaa....
04 May 2010
Betapa...
Aku jadi teringat almarhumah tanteku, yang meninggal di usia muda, meninggalkan 3 orang anak, yang bungsu saat itu berusia 1 tahun (alhamdulillah sekarang mereka telah tumbuh dewasa). Betapa sedihnya saat itu aku melihat mereka, tiba-tiba kasih sayang mamanya hilang, betapa terkaget-kaget jiwanya. Memang semua telah ditakdirkan oleh Allah, tapi tetap saja sebagai manusia kita selalu kaget dan pilu mendengar suatu kabar kematian.
Mungkin memang benar kata-kata yang sering kudengar, tebarlah kebaikan semasa hidup jadi saat meninggal nanti kita tak akan menyesal. YA, berbagi kebaikan, berbagi senyuman, melakukan yang terbaik untuk orang orang tercinta meskipun hanya hal kecil, tak menunda nunda rencana... YA, hal-hal kecil untuk orang-orang tercinta yang terkadang tak terlalu kita pikirkan tapi mungkin bisa menimbulkan sesal mendalam. Seperti misalnya sekedar menelepon orang tua yang tinggal jauh dari kita (yang pasti selalu dan selalu merindukan kita, anak-anaknya), bermain bersama anak, memasak untuk keluarga, menyanyi menari bersama anak, menelepon teman dekat yang berulang tahun, bercengkerama bersama kakak adek, dan sebagainya dan sebagainya yang pasti daftarnya akan sangat banyak...
Selamat berbagi bersama orang-orang tercinta selagi masih ada umur, kekuatan dan kemampuan ^o^
30 April 2010
abang sayur, oh abang sayur
sudah hampir 2 bulan ini abang sayur langgananku dan tetanggaku tak kunjung memanggil manggil dengan suara khasnya. "Yur... sayuuuurr..." rasanya kok kangen dengar suara itu. Suara yang bisa membuat orang orang keluar rumah, yang bisa membuat orang orang meninggalkan kesibukannya sebentar untuk membeli sayur mayur, ikan, ayam dan lainnya.
Aku dan tetanggaku punya langganan seorang abang sayur, yang murah, baik hati, cuek dan sabar menurut kami, para pembelinya. Murah, karena harganya memang berbeda dengan abang sayur lain yang lewat di jalanan depan rumahku. Baik hati, karena dia bisa tiba-tiba menambahkan sesuatu seperti tomat atau jeruk nipis atau cabe atau apapun ke dalam belanjaan kami atau tiba tiba dia memberi diskon 200 atau 500 rupiah bahkan. Cuek, ya dia cuek, karena dia tak menawarkan ini itu kepada kami pembelinya, dibiarkan saja kami sebagai pembeli memilih dengan bebas, dan kadang bahkan tak peduli kalau kami mengambil terlalu banyak. Sabar, benar-benar sabar kurasa, dia dengan senang hati akan membersihkan ikan, mengupas kulit udang (bahkan udang kecil kecil pun dia mau mengupaskan) dan yang lebih asyik lagi, dia mau saja mengupaskan dan memotong motong singkong.
aku benar-benar kehilangan dia, rasanya tak ada abang sayur yang lewat depan rumah yang mampu menandingi kualitasnya. Selain punya peran penting untuk kelangsungan makanan sehari-hari keluarga, dia juga punya peran penting bagi lingkungan. Meski hanya berbelanja sekitar 10 menit, tapi aku bisa bertemu dengan para ibu-ibu lain, bisa tahu tentang berita lingkungan dari mereka. Misalnya tentang Bu A yang anaknya mau menikah, tentang Bu B yang dirawat di rumah sakit atau tentang masalah lingkungkan seperti proyek pengaspalan jalan, kerja bakti dan sebagainya.
oh abang sayur, cepatlah kau muncul. Semoga tak terjadi apapun yang tak mengenakkan padamu. Semoga kau hanya pulang kampung saja. Miss you abang sayur ^_^
15 August 2009
Namaku Jana
Ada satu rahasia yang tak banyak orang tahu, mungkin hanya beberapa sahabat terdekatku. Aku tak pernah pacaran sekalipun. Ya, sekalipun. Sejak lahir ke dunia ini aku belum pernah pacaran. Jatuh cinta? Oh, kau tanya tentang jatuh cinta ya. Tentu saja aku pernah jatuh cinta. Kurasa setiap perempuan atau laki-laki dewasa pernah jatuh cinta. Tapi khusus untukku aku hanya pernah jatuh cinta 2 kali, karena aku bukan tipe yang mudah jatuh cinta. Dan keduanya masih terasa sampai saat ini. Yang pertama saat aku sma, kelas 2 sma kurasa. Dengan teman satu angkatanku. Cinta bertepuk sebelah tangan. Dia anak yang baik, pintar dan sopan. Sayangnya aku tak cukup akrab dengan dia. Mungkin aku tak pandai memberikan sinyal tentang rasa sukaku. Aku bukan tipe cewek yang genit. Tapi jauh di dasar hatiku, aku merasa kalau dia juga suka kepadaku. Sayangnya, aku pernah mendengar kabar kalau dia sudah menikah. Pupuslah sudah harapanku. Yang kedua saat aku kuliah. Seniorku, beda jurusan. Yang ini pun sudah menikah, bahkan dengan orang yang kukenal. Sedih bukan kisahku.
Pernah juga aku akan dijodohkan dengan teman kakakku. Seorang yang sudah cukup mapan dalam pekerjaan. Sayangnya setelah bertemu sekali dengannya, aku merasa kurang cocok, tidak nyambung dalam obrolan. Mungkin dia yang terlalu serius atau aku yang terlalu santai. Kau mau tanya apa lagi? Atau mungkin kau mau menjodohkanku dengan temanmu atau saudaramu? Tak apa, aku tak menutup kemungkinan untuk dijodohkan. Tapi asal tahu saja, memilih suami bagi aku bukan sekedar memilih orang yang baik atau orang yang mapan. Bagiku ini juga soal perasaan dan hati. Meski dijodohkan, aku harus merasa ada klik di hatiku. Rasanya aku sudah bosan dengan omongan keluarga besarku. Setiap ada acara keluarga, selalu ada saja yang bertanya tentang “kapan kawin?” (seperti iklan ya) atau “udah ada calon belum?” dan sebagainya, dan lain-lain. Terutama dari kalangan orang tua, seperti budhe dan pakdhe. Maklum, aku orang jawa, jadi rasanya hal ini juga jadi masalah keluarga besar. Kasihan juga mamaku, pasti dia yang paling kepikiran tentang masalah aku dan jodohku ini. Kadang dia bertanya padaku, apa kira-kira aku sudah ada pandangan atau calon. Dia tak percaya kalau aku tak punya kandidat satu orang pun. Mungkin karena dia melihat lingkungan pergaulanku yang cukup banyak.
Sebenarnya aku sih tak terlalu memikirkannya, kalau tak didesak dari sana sini. Di kota besar seperti Jakarta ini, rasanya sudah wajar seorang wanita menikah di usia lebih dari 30 tahun. Menikmati hidup, karir dan waktu yang dimilikinya. Banyak juga temanku yang belum menikah. Mungkin mereka merasakan hal yang sama denganku juga ya…hanya saja, bedanya, mereka sudah punya kekasih, atau paling tidak, pernah pacaran, tak seperti aku ini, yang belum pernah sekalipun.
Jadi bagaimana solusinya ya? Apa kau punya solusi? Kau yang mulai bertanya, sebaiknya kau punya solusi tentang hal ini.
Oh iya, salah satu budheku berusaha menjodohkanku dengan anak temannya. Aku belum ketemu dia sih. Rencananya minggu depan aku akan bertemu dengannya. Tentunya dengan ditemani budheku. Seperti apa ya orangnya. Pasti orang baik dan pintar ya. Aku rasa yang ini juga tak akan berhasil. Tapi tak apalah. Tak ada salahnya menyenangkan hati orang tua. Dengan begini, mama dan papa, juga pasti akan berpikir kalau aku ada usaha juga, nggak terlalu cuek. Dulu juga papa pernah berusaha menjodohkanku dengan anak temannya, tapi karena belum terlalu banyak desakan dari keluarga dan dari diri sendiri, aku menolak untuk dijodohkan, rasanya lebih baik cari sendiri. Tapi sekarang, kupikir-pikir tak ada salahnya dijodohkan. Toh jaman kakek nenekku pun mereka dijodohkan dan langgeng sampai sekarang, Selain itu aku punya alasan lain, adikku sudah punya calon, dan rasanya dia akan menikah dalam waktu setahun dua tahun ini. Aku tak ingin dia mendahuluiku. Kalau aku sudah punya calon, tentu rencana menikahnya pun akan mundur, disesuaikan dengan rencanaku. Tapi kalau terpaksa aku tak dapat-dapat jodoh, ya sudah, aku menyerah saja. Aku juga tak mau jadi penghalang orang yang mau menikah. Bagaimana? Apa kau puas dengan jawabanku?
Apa katamu? Mencoba ikut biro jodoh? Kau tahu juga ya tentang itu. Ya, pernah juga sih ada obrolan tentang biro jodoh di antara teman-temanku. Biro jodoh jaman sekarang kan keren-keren dan bermacam-macam, ada juga temanku yang ikut. Selintas aku juga pernah memikirkannya. Tapi rasanya aku belum terlalu berani untuk itu. Rasanya takut. Gimana kalau nanti ternyata ketemu dengan penipu atau playboy atau orang yang mau berbuat jahat padaku. Tidak ada yang menjamin kan. Meskipun dijodohkan oleh saudara pun, aku tak tahu seperti apa orangnya, tapi paling tidak ada yang menjaminnya, saudaraku atau kakakku misalnya. Ini rahasia ya, sebenarnya aku juga berencana untuk ikut biro jodoh, tapi nanti, saat usiaku mendekati 40 dan belum dapat jodoh juga. Terpaksa deh.
Anak? Apa maksudmu? Oh, tanggapanku tentang anak-anak? Mereka lucu, aku juga sayang banget dengan 2 orang keponakanku, anak kakakku. Manis sih, tapi sepertinya kok repot ya mengurusnya. Temanku yang sudah punya anak juga suka bercerita tentang anaknya yang masih batita, seperti keajaiban saja ya. Meski repot tapi rasanya menakjubkan. Itu kata mereka yang sudah punya anak. Aku sih hanya mendengarkan saja sambil membayangkan 2 ponakanku yang mungil itu. Tapi sebenarnya aku agak sebel juga kalau saat ngumpul dengan teman, ada seseorang yang bercerita terus tentang anaknya. Mungkin karena aku belum punya anak ya. Aku juga sempat berpikir, kalau aku sudah menikah, lalu punya anak, apa aku akan tetap terus bekerja atau akan berhenti dan fokus mengurus anak? Kalau terus bekerja, berarti aku mesti meninggalkan anakku dengan si mbak di rumah dong. Gimana kalau ternyata dia suka nonton dangdut atau nonton sinetron atau ngerumpi dengan pembantu lain? Wah, ini pengaruh buruk untuk anakku, dia mungkin tak akan terurus. Atau gimana kalau misalnya si mbak suka membentak-bentak anakku, seperti pembantu depan rumahku, ini lebih gawat. Anak kecil kan nggak bisa melawan, bisa stress nanti anakku. Mungkin lebih baik dititipkan di tempat penitipan anak. Tapi, itu kan belum terjadi kenapa mesti kupikir serius. Gara-gara kau sih, bertanya tentang anak segala. Kekasih saja tak punya.
Belum capek ya bertanya padaku? Rasanya kau selalu punya pertanyaan. Apa? Cowok? Wah, kau ini. Cowok yang naksir aku? Pernah ada sih, beberapa orang. Bahkan ada yang sudah menikah, tetap kekeh mengejar aku. Kalau sama yang sudah menikah sih, nggak deh. Aku kan paling benci sama cowok selingkuh dan poligami. Aku sangat mengagungkan kesetiaan. Kalau memang sudah tak suka, ya katakan saja, lalu cerai deh. Kalau cowok yang lain, macam-macam juga. Ada yang teman sekantorku, ada yang teman kakakku, ada yang teman kuliahku dulu, ada juga anak temen papaku. Tapi rasanya tak ada yang cocok menurutku. Aku bukan orang yang alergi cowok, buktinya aku juga punya beberapa teman dekat cowok kok. Perfeksionis katamu? Maksudmu aku mau cowok yang sempurna? Kadang kupikir agak begitu sih. Misalnya di si A, aku menemukan kekurangan, aku langsung menjauh secara teratur, lalu waktu dekat sama si B, aku menemukan kekurangannya, aku juga mulai menjauh. Apa itu namanya perfeksionis? Oh gitu ya… pernah juga ada temanku yang bilang, kita nggak mungkin bisa menemukan satu manusia sempurna tanpa kekurangan, jadi kalau memang ada kekurangannya terima saja, toh diri kita sendiri juga tidak sempurna. Kadang kita harus kompromi juga dengan keadaan. Tapi kurasa bukan masalah itu, aku merasa belum sreg aja dengan beberapa cowok yang mendekatiku itu. Seperti yang kubilang tadi, harus ada klik di hatiku, baru aku akan pacaran. Ada juga temanku yang bilang, coba aja dulu, nanti juga lama-lama bisa jadi suka kok. Meski awalnya Cuma 10% rasa sukanya, lama-lama bisa jadi 75% bahkan lebih. Kata dia sih, apa salahnya mencoba dulu. Benar juga sih kata dia. tapi kalau menurutku, kalau memang tidak benar-benar suka, ngapain pacaran. Itu kan mengorbankan waktu, perasaan, dan biaya juga. Itu namanya perfeksionis ya. Mungkin aku perlu meninjau ulang cara pandangku tentang ini ya. Bolehlah nanti kucoba tips dari temanku itu.
Kau masih ingin bertanya ya? Tentang apa lagi? Orientasi pacaran? Maksudmu? Tentu saja aku ingin pacaran yang serius. Yang arahnya adalah pernikahan. Bukan hanya sekedar pacaran seperti ABG. Rasanya sudah tak relevan lagi untuk usiaku ini. Lagipula, sayang juga kalau pacaran tak ada tujuannya. Menjadi istri? Ya, kalau sudah punya calon, mau tak mau aku mesti siap untuk menikah dan menjadi istri, juga menjadi ibu. Tapi saat ini kan aku belum punya calon. Kurasa lebih baik kau carikan calon suami untukku, daripada terus bertanya tentang itu. Lebih bermanfaat bagiku bukan? Tapi, lumayan juga, aku jadi bisa curhat padamu, tentang pikiran dan perasaanku mengenai masalah jodoh ini. Jadi sedikit merasa lega.
Rasanya kita sudah mengobrol banyak ya. Kau jadi tahu bermacam-macam tentang hidupku. Tapi kau ini siapa ya? Kenapa kita tiba-tiba mengobrol? Aku bukan tipe yang mudah membuka diri lho. Tapi kenapa aku menjawab saja semua pertanyaanmu? Sebentar dulu, jangan pergi dulu. Rasanya aku mengenalmu? Hemm…coba kuingat-ingat ya… kau ini seseorang dari masa laluku ya… Rasanya aku ingat wajah itu. Ya, benar. Wajah manismu itu. Kau si cool itu ya? Ah, siapa namamu ya? Aku ingat wajahmu itu, tapi siapa namamu ya, maaf aku lupa. Siapa? Oh iya, Galang. Ya benar. Kenapa aku bisa lupa ya. Kita pernah sekelas waktu smp ya. Kau kemana saja? Kenapa tiba-tiba muncul dan mengobrol tentang hidupku? Masih di Jakarta ya ternyata. Aku pikir kau pindah ke luar kota. Waktu reuni 2 tahun lalu, rasanya aku tak melihatmu. Kau tak datang ya? Kenapa? Tak berani datang? Memangnya kau punya musuh sampai tak berani datang? Ternyata wajahmu tak jauh berubah ya. Wah, sekarang giliranku untuk bertanya tentangmu dong.
Kau kerja dimana? Jadi jurnalis ya. Senang juga ya, bisa meliput berbagai hal. Lalu, kau tinggal dimana? Masih di rumahmu yang dulu? Tapi rumahmu itu dimana ya? Maaf ya, kalau aku nggak tahu apa-apa tentangmu. Tapi aku masih merasa aneh, kenapa aku merasa dekat denganmu ya, bahkan bercerita berbagai hal tentang hidupku. Oh iya, anakmu berapa? Eh? Kok belum punya anak sih, masih ingin berdua saja ya. Apa? Belum menikah juga ya? Sama dong dengan aku. Duh, kau ini pendek-pendek saja ya jawabnya. Tadi saat aku bercerita pun komentarmu singkat saja. Memang begitu ya tipikalmu. Baiklah.
Apalagi ya yang ingin kutanyakan. Mungkin sebaiknya aku diam saja ya. Kenapa kau menemuiku? Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku ya? Baiklah, akan kutunggu saja.
Apa? Kau memanggilku? Ya, aku dengar kok. Kenapa? Tidak, aku sedang free kok, tak ada kesibukan hari ini. Kau ingin mengajakku keluar ya. Oh, bukan hari ini. Bolehlah, kapan-kapan kita jalan bareng. Kau kelihatan ragu. Apa yang ingin kau katakan sebenarnya? Oh, tentang reuni waktu itu ya. Aku juga tak yakin kalau kau tak datang,mungkin aku tak terlalu memperhatikan. Hanya saja, rasanya aku tak melihatmu. Ternyata kau benar tak datang ya. Kenapa tak ada keberanian? Tak berani bertemu denganku? Yang benar saja. Memangnya kita ada masalah? Aku rasa kita tak pernah bertengkar atau berselisih paham. Apa?? Kau suka padaku sejak smp? Waktu reuni tak berani bertemu aku, karena belum sanggup mengatakannya padaku? Wow… aku kaget. Kau sangat mencintaiku ya. Lama sekali kau pendam cinta itu. Yang benar? Bukan dusta kan? Masa sih aku cinta pertamamu. Baiklah. Aku percaya. Aku bahagia, ternyata ada orang yang begitu mencintaiku. Kau khusus datang kemari untuk mengatakan itu ya? Kenapa kau malah banyak bertanya padaku? Rupanya kau ingin tahu tentang hidupku ya. Hemm, entah kenapa, aku bisa cocok ngobrol denganmu, dan langsung merasa dekat denganmu. Mungkin ada reaksi kimia yang berperan antara aku dan kamu.
Kau meminta jawabanku? Duh…kalau saat ini aku tentu masih belum bisa menjawab. Apa? Harus sekarang? Kenapa? Toh kau telah menunggu sekian lama dan memendam rasa cintamu itu. Tak ada salahnya kalau kau menunggu jawabanku besok atau lusa misalnya. Baiklah. Akan kupikirkan pernyataan cintamu itu. Mungkin ini sudah saatnya bagiku untuk menerapkan tips dari temanku itu. Tak ada salahnya mencoba kan. Mungkin aku harus kompromi dengan keadaan. Tapi, tolong beri aku waktu dulu, aku akan memikirkannya. Karena aku agak merasa cocok denganmu. Terimakasih kau sudah mau mendengar kisahku. Besok atau lusa kau akan kutelepon untuk memberi jawaban. Keluar? Oh, boleh saja, kau boleh menjemputku di kantor, lalu kita pergi ke suatu tempat. Betul juga. Kurasa lebih baik kusampaikan jawabanku secara langsung padamu. Apapun jawabanku, pasti kau sudah siap kan? -
