Sejak bulan Juli tahun lalu, kakak mulai masuk SD. Masuk SD berarti akan mulai muncul berbagai permasalahan yang harus dipertimbangkan secara matang, karena anak sudah mulai mengerti dan paham dengan jelas. Salah satunya adalah masalah uang saku. Yak benar, uang saku!
Sekolah Kakak, alhamdulillah, terbuka sekali dalam hal makanan yang dijual di kantin. Apa saja yang dijual di kantin, di awal tahun ajaran kami mendapat daftarnya, komplit dengan harganya. Harga termurah makanannya adalah seribu rupiah, seperti risoles atau donat, sedangkan harga termahal adalah 5 ribu rupiah seperti spagetty atau hamburger, tentu dalam ukuran kecil. Sekolah juga meyakinkan dan memastikan bahwa yang dijual hanyalah makanan sehat, tidak ada permen atau snack ber-msg. Dilampirkan juga surat mengenai uang saku, bahwa uang saku maksimal 10 ribu rupiah, tidak boleh lebih dari itu. Dari surat itu saya memutuskan untuk memberi kakak uang saku, sekalian supaya dia belajar dan mengerti nilai uang. Karena kakak baru kelas 1 SD, jadi saya memutuskan untuk memberinya 6 ribu rupiah, itupun saya terapkan aturan, 4 ribu rupiah dibawa ke sekolah, 2 ribu rupiah ditabung di rumah, setelah terkumpul banyak bisa ditabung di bank atau untuk beli sesuatu yang sangat dia inginkan. Dari uang saku ini dia bisa belajar berbagai hal, selain belajar tentang nilai uang, dia juga belajar untuk menabung dan belajar untuk mengumpulkan uangnya jika dia ingin beli kue yang agak mahal lebih dari uang sakunya. Di awal awal dia mendapat uang saku, setiap hari selalu habis untuk jajan, maklumlah setiap hari dia ingin mencoba berbagai makanan yang dijual di kantin. Tapi beberapa bulan ini, uang sakunya sering lebih, kadang dia Cuma jajan 2 ribu atau seribu rupiah, kadang sama sekali nggak jajan, karena memang setiap hari membawa bekal kue dan minum. Wah, dia senang sekali setelah tahu karena nggak jajan maka uang tabungannya bertambah banyak. Alhamdulillah senangnya semua berjalan seperti yang saya harapkan. Sekarang pun masih sama, setiap hari dia membawa 4 ribu rupiah. Oh iya, satu hal lagi yang penting, setiap hari saya selalu menanyakan apa yang dibelinya di sekolah. Ini penting karena bisa saja dia membeli makanan di warung depan sekolah, karena setelah jam pulang sekolah guru tidak mengontrol lagi ‘kan. Tapi syukurlah, selama ini kakak selalu jujur bercerita apa saja yang dibelinya, bahkan ketika dia membayari temannya, atau ketika uangnya kurang padahal dia pengin beli burger.
Ada beberapa orang tua yang belum menganggap perlu memberi uang saku kepada anak, karena toh setiap hari mereka membawa bekal makanan, ditambah lagi langganan catering makan siang di sekolah. Saya sendiri kurang setuju tentang hal ini. Karena bisa saja anak malah minta ke temannya atau malah minta dibayarin temannya. Itu terjadi pada sepupu saya, berdasarkan pengakuan dia sendiri, setelah besar barulah dia mengaku ke ibunya, bahwa waktu SD dia sering dibayari teman atau malah minta dibayari.
Oke, sekian dulu tentang uang saku, semoga berguna. Intinya adalah kepercayaan, kalau kita percaya anak kita akan menggunakan uangnya dengan baik dan benar, Insya Allah itu akan terjadi^_^
Dan hidup itu indah... Dengan Matahari dan Bintang yang selalu menyinari siang dan malam...
Showing posts with label anak-anak. Show all posts
Showing posts with label anak-anak. Show all posts
03 February 2012
02 November 2010
Kenapa Si Kecil Suka Coret Coret?

2 Jagoanku suka coret coret, seperti wajarnya anak kecil lain. Tapi dari sejak mereka kuperkenalkan dengan alat tulis (awalnya spidol, lalu krayon, lalu pensil warna), mereka juga kuperkenalkan pada media untuk menulis, yaitu kertas. Bisa kertas gambar, bisa buku catatan biasa, apa saja pokoknya ada medianya. Jadi alhamdulillah, sampai sekarang, nggak satupun anakku yang coret coret di dinding, aman deh nggak perlu memikirkan mengecat ulang dinding karna coret coret. Berikut ini ada artikel tentang coret coret anak, semoga berguna yaa...
Orangtua seringkali menemukan coretan-coretan pada dinding rumah yang dilakukan oleh si kecil. Kenapa anak kecil suka sekali mencoret-coret?
Kelakuan ini seringkali membuat orangtua menjadi kesal dan marah, karena tembok rumah yang tadinya bersih jadi kotor. Biasanya anak belum bisa menggambar bentuk yang benar, sehingga coretan yang ada hanya berupa garis lurus saja.
Meskipun kondisi ini tidak menyenangkan dan membuat rumah terlihat kotor, sebaiknya orangtua tidak memarahi atau membentak si kecil.
Namun beritahukan pada anak di mana seharusnya ia boleh menggambar atau mencoret-coret. Sediakan pula sarana seperti buku gambar, kertas kosong dan crayon ukuran besar sehingga mudah digenggam oleh anak.
Kebiasaan mencoret-coret ini merupakan salah satu cara untuk melatih perkembangan motorik halusnya, perkembangan ini nantinya akan dibutuhkan untuk membantu anak menulis dan menggambar.
Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi si kecil untuk mengungkapkan atau mengekspresikan dirinya, meskipun gambar yang dihasilkan terkadang tidak bisa dimengerti oleh orangtua.
Dikutip dari Family,go.com, coretan yang dihasilkan oleh si kecil berbeda-beda tergantung pada usianya, yaitu:
Coretan acak terjadi pada usia 12-30 bulan (2,5 tahun)
Pada usia ini anak masih belajar untuk memegang pensil warna dan membuat tanda atau garis di atas kertas. Anak-anak cenderung mengalami kenikmatan kinestetik, yaitu kesenangan atau kenikmatan untuk bergerak dan membuat tanda. Coretan yang dihasilkan masih acak dan tidak teratur serta cenderung menghasilkan garis panjang sepanjang kertas atau tembok.
Coretan terkontrol terjadi pada usia 2,5-3 tahun
Pada usia ini anak mulai menggunakan gerakan pergelangan tangan, mengontrol coretannya dan membuat gambar yang lebih kecil. Namun coretan yang dihasilkan belum sepenuhnya bisa dimengerti orang lain, dan juga anak masih suka menggambar atau mencoret-coret tembok.
Coretan yang dihasilkan mulai berbentuk, terjadi pada usia 3-4,5 tahun
Anak-anak mulai memegang krayon dengan menggunakan jari serta sudah mampu membuat berbagai garis dan bentuk serta gambarnya sudah mulai bisa dimengerti. Selain itu anak-anak juga cenderung ‘mengisahkan’ atau ada cerita di balik gambar yang dibuatnya.
Preskematik terjadi pada usia 4,5-7 tahun
Anak mulai menggambar simbol-simbol seperti garis yang meliuk-liuk, lingkaran, spiral, angka-angka dan sesuatu yang mulai menyerupai objek sebenarnya. Tapi anak-anak masih belajar untuk mengungkapkan sesuatu pada orang lain melalui gambarnya.
Orangtua sebaiknya tidak melarang kegiatan anaknya ini, karena banyaknya larangan yang diterima oleh si kecil akan menghambat sisi kreativitas anak untuk berani mengekspresikan dirinya. Selain itu larangan yang diberikan atau memarahinya tidak akan memberitahu anak apa yang salah dan bagaimana yang benar.
Karena itu orangtua harus menyediakan sarana bagi anak untuk menggambar, serta memberitahu dan memberi pengertian pada anak dimana saja anak boleh menggambar dan daerah mana saja yang tidak boleh.
Memang tidak mudah dan tidak cukup sekali saja memberitahunya, untuk itu orangtua harus sabar dan mengulanginya terus, serta jangan lupa untuk memberi anak pujian jika ia berhasil menggambar di tempat yang benar.
(sumber : resep.web.id, detik-health)
Subscribe to:
Posts (Atom)